Pemerintah Provinsi Sumbar, kata Arry, memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kolaborasi lintas negara, lintas institusi, maupun lintas profesi sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin merata, berkualitas, dan berkeadilan.
“Penanganan penyakit jantung bawaan pada anak-anak tidak hanya menjadi tantangan medis, tetapi juga memberikan beban fisik, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga. Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumbar memandang kegiatan proctorship ini sangat strategis karena tidak hanya memperluas akses pelayanan berkualitas, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di daerah melalui transfer ilmu pengetahuan,” ujar Arry.
Selain memberikan apresiasi kepada seluruh mitra yang terlibat dalam program tersebut, Arry juga menyampaikan penghargaan kepada para dokter, perawat, serta tenaga kesehatan yang selama ini memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, dedikasi tenaga kesehatan tidak hanya berkontribusi dalam proses penyembuhan pasien, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi anak-anak yang tengah berjuang melawan penyakit jantung beserta keluarganya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyakit jantung bawaan masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Setiap tahun, sekitar satu persen atau sekitar 48 ribu bayi yang lahir mengalami kelainan jantung bawaan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 12 ribu bayi membutuhkan tindakan operasi sesegera mungkin karena berada dalam kondisi kritis. Besarnya jumlah pasien yang memerlukan tindakan medis tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam meningkatkan kapasitas pelayanan rumah sakit.
Menurut Budi, hingga tahun 2022 Indonesia baru mampu melaksanakan sekitar 6.000 operasi jantung anak setiap tahun. Kondisi itu menyebabkan masih banyak anak yang belum memperoleh tindakan medis tepat waktu karena keterbatasan jumlah rumah sakit dan tenaga kesehatan yang mampu menangani kasus tersebut.
“Karena itu pemerintah terus memperluas kemampuan rumah sakit yang dapat melakukan operasi jantung anak. Dari sebelumnya hanya sembilan rumah sakit di enam provinsi, kini telah berkembang menjadi 15 rumah sakit di 12 provinsi. Namun jumlah itu masih harus terus ditingkatkan agar seluruh provinsi memiliki layanan operasi jantung anak,” kata Budi.