Melalui kebijakan tersebut, bantuan gizi tidak hanya diberikan sebagai bentuk dukungan pemenuhan nutrisi, tetapi juga disertai pemantauan kesehatan ibu dan anak secara berkala. Dengan cara itu, potensi stunting dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya dapat dilakukan sedini mungkin.
Selain membahas pelayanan langsung kepada masyarakat, Annisa juga menyoroti pentingnya penyempurnaan sistem informasi kesehatan. Ia berharap berbagai aplikasi pelayanan kesehatan dapat diintegrasikan sehingga tenaga kesehatan lebih mudah melakukan pencatatan, pemantauan kondisi masyarakat, serta mengurangi beban administrasi, khususnya di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses jaringan internet.
Di akhir pemaparannya, Annisa berharap pemerintah pusat terus memberikan perhatian kepada daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya agar transformasi pelayanan kesehatan primer dapat berlangsung lebih merata di seluruh Indonesia.
Menurutnya, pemerataan dukungan menjadi faktor penting agar masyarakat di daerah juga memperoleh kualitas pelayanan kesehatan yang setara dengan wilayah lain.
"Kami yang kecil-kecil di ujung ini berharap mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah pusat, sehingga tidak semakin tertinggal dan masyarakat kami dapat menikmati pelayanan kesehatan yang setara dengan daerah-daerah lainnya," ujar Annisa.
Melalui partisipasinya dalam Leaders Talk Leimena Conference 2026, Annisa Suci Ramadhani menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperkuat pelayanan kesehatan primer, memperluas akses layanan melalui inovasi Lado Kutu, mengoptimalkan Integrasi Layanan Primer (ILP), serta memperkuat upaya pencegahan stunting demi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Dharmasraya. (*)