Dalam formulasi tersebut, gambir dimanfaatkan sebagai sumber katekin yang memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri. Sementara itu, katekin gambir dipadukan dengan PFAD melalui penerapan teknologi enkapsulasi.
Teknologi tersebut dirancang untuk melindungi senyawa bioaktif dan asam lemak sehingga tidak cepat mengalami degradasi selama berada di dalam rumen ternak. Seluruh bahan kemudian diformulasikan menjadi bentuk wafer yang lebih praktis untuk disimpan, didistribusikan, maupun diberikan kepada ternak.
Hasil penelitian tahap awal menunjukkan perkembangan yang positif. Tim peneliti menemukan bahwa penambahan enkapsulat PFAD–gambir hingga 9 persen mampu mempertahankan kualitas fisik wafer sekaligus memberikan respons fermentasi rumen yang dinilai positif.
Berdasarkan hasil tersebut, formula dengan penambahan enkapsulat PFAD–gambir sebesar 9 persen dipilih sebagai kandidat terbaik untuk dikembangkan pada tahapan riset berikutnya. Formula tersebut nantinya akan dikombinasikan dengan tanaman bioaktif terpilih guna mengoptimalkan penurunan gas metana yang dihasilkan selama proses fermentasi rumen ternak.
Selain menghadirkan inovasi di bidang peternakan, penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Riset tersebut mendukung SDG 2: Zero Hunger melalui penguatan ketersediaan protein hewani, SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara efisien, serta SDG 13: Climate Action melalui pengembangan teknologi pakan yang berpotensi menekan emisi metana.
Melalui kolaborasi antara Unand dan mitra dari Pakistan, pengembangan wafer pakan komplit fungsional diharapkan menjadi salah satu inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi peternakan ruminansia sekaligus memperkuat produksi protein hewani yang lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan bahan baku lokal yang dipadukan dengan teknologi enkapsulasi juga menjadi langkah strategis dalam menghadirkan solusi bagi tantangan peternakan modern, terutama dalam upaya mengurangi emisi metana tanpa mengurangi kualitas pakan maupun produktivitas ternak. (*)