"AI boleh membantu. AI boleh menjadi co-pilot. Tapi pilotnya adalah saudara-saudara sendiri," ujarnya.
Menurutnya, perkembangan AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Namun, kemampuan yang membedakan lulusan perguruan tinggi bukanlah kecepatan memperoleh jawaban, melainkan kecakapan memahami persoalan, berpikir kritis, melahirkan ide kreatif, berkomunikasi, serta membangun kolaborasi.
"Anda tidak diwisuda hari ini karena bisa mendapat jawaban dengan cepat. Anda diwisuda karena telah belajar berpikir. Berpikir kritis, berpikir kreatif, mampu berkomunikasi, dan mampu berkolaborasi adalah modal untuk tetap kompetitif di era AI dan robot," katanya.
Ia menjelaskan bahwa lulusan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berdasarkan Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum, risiko global kini bergeser dari persoalan bencana alam menuju konfrontasi geoekonomi, disinformasi, polarisasi sosial, hingga meningkatnya dampak perkembangan AI.
Perubahan tersebut, kata Efa, menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan beradaptasi, menjunjung integritas, serta mampu mengambil keputusan secara tepat di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.
"Dunia kerja tidak lagi mencari lulusan yang sekadar pintar. Dunia mencari lulusan yang tangguh, yang mampu membedakan informasi benar dari yang salah, serta mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian yang kini menjadi keniscayaan," tegasnya.
Selain menyoroti tantangan global, Rektor UNAND juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan. Penghargaan khusus diberikan kepada mereka yang berhasil menjadi sarjana pertama di keluarganya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membuka sejarah baru bagi keluarga sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya untuk menempuh pendidikan tinggi.