Bertambahnya jumlah paket pelatihan juga berdampak pada peningkatan jumlah peserta. Dalam setiap paket pelatihan, terdapat 17 orang peserta yang mengikuti proses pembelajaran dan praktik sesuai bidang yang dipilih.
Joni menjelaskan seluruh jenis pelatihan telah disusun berdasarkan kebutuhan pasar kerja sehingga kompetensi yang diperoleh peserta dapat lebih sesuai dengan peluang kerja yang tersedia maupun potensi ekonomi di Solok Selatan.
Selain menyelenggarakan pelatihan secara rutin setiap tahun, Disnakertrans juga memperluas kolaborasi dengan sejumlah pihak untuk mendukung keberlanjutan program setelah peserta menyelesaikan pelatihan. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha baru.
"Kami melakukan kerja sama dengan Dinas Perindagkop dan UKM untuk berlanjutnya usaha dari peserta pelatihan. Selain itu juga memiliki kerja sama dengan beberapa perusahaan yang ada dan beroperasi di Solok Selatan, juga ada kesepakatan dengan Japan Training Center (JTC) dan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI)," terangnya.
Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah pelatihan seperti barista, TIK, menjahit, dan perbengkelan secara rutin menjadi bagian dari program BLK. Di samping itu, BLK juga menyelenggarakan pelatihan pengoperasian ekskavator, scaffolding, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk meningkatkan kompetensi teknis maupun manajerial para pencari kerja sebelum memasuki dunia kerja.
Melalui berbagai pelatihan tersebut, Pemerintah Kabupaten Solok Selatan berharap kualitas sumber daya manusia terus meningkat sehingga mampu menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus memperluas kesempatan kerja di daerah.
"Melalui program ini, diharapkan tercipta tenaga kerja yang lebih kompeten, produktif, dan memiliki daya saing, sehingga mampu memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan," tutupnya. (*)