Sumbardaily.com - Pembangunan infrastruktur pelindung pantai dinilai perlu mengedepankan ketepatan pemilihan tipologi bangunan yang disesuaikan dengan karakteristik bencana hidrometeorologi di setiap kawasan pesisir.
Pendekatan tersebut diyakini mampu menghasilkan perlindungan pantai yang lebih efektif sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (UNAND), Prof. Ir. Mas Mera, M.T., Ph.D. Menurutnya, keberhasilan sebuah bangunan pelindung pantai tidak hanya ditentukan oleh kualitas material maupun kekuatan konstruksi, tetapi juga bergantung pada kesesuaian tipe bangunan dengan kondisi gelombang, arus laut, serta dinamika sedimen di lokasi pembangunan.
"Bangunan yang kokoh belum tentu mampu melindungi wilayah pesisir jika tipologi yang digunakan tidak sesuai dengan mekanisme kerja alam," ungkap Prof. Mas Mera dilansir Rabu (6/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa setiap kawasan pantai memiliki karakteristik hidrodinamika yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan rekayasa yang berbeda pula. Oleh karena itu, proses perencanaan infrastruktur harus diawali dengan mengidentifikasi gaya dominan yang bekerja di wilayah pesisir sebelum menentukan jenis bangunan pelindung yang akan diterapkan.
Menurut Prof. Mas Mera, langkah tersebut bertujuan agar bangunan dapat bekerja secara optimal dalam mengurangi ancaman abrasi maupun berbagai kerusakan yang dipicu oleh bencana hidrometeorologi.
Sebagai contoh penerapan konsep tersebut, ia memaparkan hasil rekayasa di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Pada kawasan tersebut dilakukan modifikasi bangunan groin konvensional menjadi T-Head Groin.