Selain menjadi sarana pelestarian budaya, festival tersebut juga mendapat apresiasi dari Wali Kota kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Apresiasi diberikan kepada Forum Ekraf Kota Pariaman selaku penggagas kegiatan, niniak mamak, Bundo Kanduang, serta seluruh masyarakat yang berkontribusi menyukseskan pelaksanaan festival.
Menurut Yota Balad, kegiatan berbasis budaya seperti Festival Maantaan Sambareh memiliki manfaat yang lebih luas karena mampu menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya di Kota Pariaman.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga berpotensi besar untuk menggerakkan roda ekonomi kreatif dan sektor pariwisata berbasis budaya di Kota Pariaman. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat kebersamaan, menyatukan visi, dan bahu-membahu membangun Kota Pariaman yang berbudaya, dan sejahtera,” tutupnya.
Festival Maantaan Sambareh Tingkat Kota Pariaman Tahun 2026 menjadi bagian dari rangkaian Ekraf Fest Bandagala yang merupakan sub event Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026. Rangkaian acara diawali dengan pemukulan gandang tambua oleh Wali Kota Pariaman bersama perwakilan Forkopimda sebagai penanda dimulainya festival.
Setelah prosesi pembukaan, seluruh peserta mengikuti arak-arakan budaya yang dimulai dari Gerbang Hotel Nan Tongga menuju area parkir Muaro Pantai Gandoriah dan berakhir di depan Kantor Galeri Dekranasda Kota Pariaman. Kegiatan kemudian ditutup dengan menikmati sambareh yang telah disiapkan oleh seluruh peserta festival.
Melalui penyelenggaraan Festival Maantaan Sambareh 2026, Pemko Pariaman berharap tradisi khas Piaman tetap lestari, semakin dikenal oleh masyarakat luas, serta mampu menjadi bagian penting dalam penguatan identitas budaya sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. (*)