Sumbardaily.com – Ancaman perubahan iklim yang semakin nyata di Sumatera Barat (Sumbar) memunculkan berbagai tantangan baru bagi masyarakat. Cuaca ekstrem, banjir, hingga longsor yang semakin sering terjadi menjadi peringatan bahwa upaya adaptasi dan mitigasi harus terus diperkuat.
Di tengah situasi tersebut, Universitas Andalas (Unand) menghadirkan solusi berbasis riset dengan mengembangkan model agroforestri cerdas iklim di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Menariknya, solusi yang dikembangkan tidak semata-mata mengandalkan pendekatan ilmiah modern. Penelitian ini justru mengangkat kembali kearifan lokal Minangkabau berupa sistem parak yang telah diwariskan secara turun-temurun dan terbukti mampu menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Yulinda, dosen Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Unand. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan apabila dipadukan dengan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim.
Hutan Nagari Salibutan sendiri merupakan kawasan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi di wilayah Sumbar. Kawasan ini menjadi salah satu daerah penyangga lingkungan yang berada di daerah aliran Sungai Batang Anai serta berfungsi sebagai kawasan tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Namun, perubahan pola curah hujan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan suhu udara, serta tingginya ancaman bencana hidrometeorologi membuat kawasan tersebut menghadapi tekanan yang semakin besar. Kondisi ini mendorong perlunya model pengelolaan hutan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Melalui penelitian yang didanai LPDP ini, tim peneliti melakukan kajian mendalam terhadap sistem parak yang selama ini dijalankan masyarakat Minangkabau. Sistem tersebut kemudian dianalisis dan dipadukan dengan pendekatan Pertanian Cerdas Iklim guna menghasilkan model pengelolaan lahan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.