Kemkomdigi berencana melakukan koordinasi dengan TVRI, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya untuk menyiapkan dukungan yang dibutuhkan di lapangan.
"Kami ingin memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal untuk menikmati momen bersejarah ini. Jika terdapat wilayah dengan tantangan konektivitas, pemerintah akan menyiapkan berbagai solusi agar masyarakat tetap dapat menyaksikan pertandingan dengan baik," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti penunjukan TVRI sebagai pemegang hak siar Piala Dunia FIFA 2026. Menurutnya, keputusan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah televisi publik Indonesia karena untuk pertama kalinya setelah era reformasi, TVRI kembali menayangkan ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
Ia menilai kepercayaan yang diberikan kepada TVRI memiliki arti strategis dalam memperluas akses masyarakat terhadap tayangan olahraga internasional.
"Ini adalah sejarah baru bagi TVRI. Setelah reformasi, untuk pertama kalinya TVRI kembali mendapatkan amanah menayangkan Piala Dunia. Kepercayaan ini tidak mungkin terjadi tanpa arahan dan perhatian khusus dari Bapak Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan masyarakat Indonesia dapat menikmati perhelatan olahraga terbesar dunia melalui televisi publik," jelasnya.
Lebih jauh, Meutya menegaskan bahwa Piala Dunia tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai positif di tengah kehidupan sosial.
Menurutnya, ajang tersebut dapat menjadi ruang bersama yang mendorong tumbuhnya semangat sportivitas, kompetisi yang sehat, serta mempererat rasa persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
"Piala Dunia bukan sekadar tontonan, ini adalah ruang untuk membangun sportivitas, semangat kompetisi yang sehat, sekaligus memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat Indonesia," ujarnya.