Menurutnya, algoritma media sosial dapat memperkuat pola interaksi, minat, maupun emosi pengguna sehingga menciptakan kesan tertentu yang belum tentu sesuai dengan realitas yang lebih luas.
“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengunggah maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Selain itu, publik diminta menghindari penyebaran ajakan yang mengarah pada kekerasan serta berbagai bentuk provokasi yang berpotensi memperkeruh situasi.
Meutya mengingatkan bahwa hoaks, disinformasi, manipulasi video, hingga potongan informasi tanpa konteks dapat memicu kesalahpahaman dan berpotensi memecah belah masyarakat apabila disebarkan tanpa verifikasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga kualitas ruang digital agar tetap sehat dan bertanggung jawab selama penyampaian aspirasi berlangsung.
“Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkas Meutya. (*)