Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pemkab Pesisir Selatan Soroti Ancaman Krisis Iklim dan Sampah

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Senin, 8 Juni 2026 | 15:35 WIB
Persoalan sampah yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim menjadi fokus utama dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar melalui apel gabungan, Senin (8/6/2026). (Foto: Pemkab Pessel)
Persoalan sampah yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim menjadi fokus utama dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar melalui apel gabungan, Senin (8/6/2026). (Foto: Pemkab Pessel)


Sumbardaily.com - Persoalan sampah yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim menjadi fokus utama dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar melalui apel gabungan, Senin (8/6/2026).





Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Pesisir Selatan H. Hendrajoni sebagai Inspektur Upacara. Momentum itu dimanfaatkan untuk mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui langkah nyata yang dimulai dari rumah tangga.





Dalam kesempatan tersebut, Bupati Hendrajoni membacakan amanat tertulis Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq. Peringatan tahun ini mengangkat tema global “Act Now for Climate: Saatnya Bekerja untuk Iklim”.





Melalui amanat tersebut disampaikan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks berupa triple planetary crisis. Krisis tersebut mencakup perubahan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia.





Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia disebut berada pada posisi yang sangat rentan terhadap berbagai dampak perubahan iklim. Ancaman tersebut dirasakan terutama oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.





"Lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir yang berisiko mengalami kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ketahanan pangan. Terlebih lagi, lebih dari 90% bencana di Indonesia bersifat hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, dan kekeringan," ujar Hendrajoni saat menyampaikan amanat menteri.





Dalam pidato tersebut juga dijelaskan bahwa Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi melalui komitmen Paris Agreement. Target yang ditetapkan mencapai 31,89 persen dengan upaya mandiri dan dapat meningkat hingga 43,20 persen melalui dukungan internasional dalam strategi Enhanced NDC 2030.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X