Sumbardaily.com - Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Barat diduga tidak hanya dipicu tingginya kebutuhan masyarakat.
Di balik fenomena tersebut, muncul dugaan bahwa sebagian besar BBM bersubsidi dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas tambang ilegal yang berdampak pada kerusakan lingkungan.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Gotong Royong ASRI yang digelar untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kawasan Pantai Pangeran Beach, Padang, Sabtu (6/6/2026).
Selain membahas persoalan lingkungan, kegiatan itu juga menyoroti dugaan penyalahgunaan BBM subsidi yang dinilai berkontribusi terhadap maraknya eksploitasi alam secara ilegal.
Dalam kesempatan itu, Mahyeldi mengungkapkan bahwa penyalahgunaan BBM bersubsidi diduga dilakukan oleh oknum tertentu dengan berbagai cara yang melanggar aturan, termasuk memodifikasi tangki kendaraan untuk memperoleh bahan bakar dalam jumlah besar.
"BBM bersubsidi banyak diambil oleh oknum tidak bertanggung jawab dengan cara yang menyalahi aturan, seperti memodifikasi tangki mobil. Diperkirakan mayoritas BBM di SPBU digunakan secara ilegal. Mengapa ini berpengaruh besar pada lingkungan? Karena pasokan minyak dari aktivitas ilegal tersebut digunakan untuk mendukung operasional tambang ilegal, yang pada akhirnya merusak dan menghancurkan alam kita," tegas Mahyeldi.
Menurutnya, persoalan lingkungan yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari aktivitas yang mengabaikan aspek keberlanjutan. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga berpotensi menimbulkan biaya pemulihan lingkungan yang jauh lebih besar pada masa mendatang.