Sumbardaily.com - Di tengah bentang alam Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, berdiri satu bangunan yang telah menyaksikan berbagai fase perkembangan transportasi di Sumatera Barat (Sumbar). Stasiun Kayu Tanam, yang berstatus sebagai bangunan cagar budaya, bukan sekadar peninggalan sejarah perkeretaapian masa kolonial Belanda, tetapi kini kembali memainkan peran penting sebagai penghubung mobilitas masyarakat modern.
Kebangkitan fungsi Stasiun Kayu Tanam semakin terlihat dari melonjaknya jumlah pengguna KA Lembah Anai sepanjang tahun 2026.
Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat (KAI Divre II Sumbar) menunjukkan peningkatan volume pelanggan yang sangat signifikan, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel.
Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di stasiun yang dahulu dikenal sebagai salah satu simpul utama jaringan perkeretaapian Sumbar.
Pada masa lalu, Stasiun Kayu Tanam menjadi titik penting yang menghubungkan kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman.
Dari lokasi inilah pernah beroperasi jalur kereta api bergerigi atau rack railway, satu-satunya di Sumbar yang memungkinkan perjalanan kereta melintasi medan pegunungan menuju Padang Panjang.
Meski jalur bersejarah tersebut kini telah menjadi bagian dari catatan masa lalu, bangunan stasiun tetap berdiri kokoh dengan karakter arsitektur kolonial yang masih terjaga hingga sekarang. Keberadaannya menjadi simbol perjalanan panjang perkembangan transportasi rel di Ranah Minang.