Jejak Kereta Bergerigi dan Kebangkitan Stasiun Kayu Tanam, Kini Layani Hampir 25 Ribu Penumpang

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 16:25 WIB
Suasana Stasiun Kayu Tanam di Kabupaten Padang Pariaman yang kini menjadi titik awal operasional KA Lembah Anai. Peningkatan layanan dan perubahan relasi perjalanan turut mendorong lonjakan jumlah pelanggan hingga 87 persen pada Januari-Mei 2026. (Dok. KAI Divre II Sumbar)
Suasana Stasiun Kayu Tanam di Kabupaten Padang Pariaman yang kini menjadi titik awal operasional KA Lembah Anai. Peningkatan layanan dan perubahan relasi perjalanan turut mendorong lonjakan jumlah pelanggan hingga 87 persen pada Januari-Mei 2026. (Dok. KAI Divre II Sumbar)


Sumbardaily.com - Di tengah bentang alam Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, berdiri satu bangunan yang telah menyaksikan berbagai fase perkembangan transportasi di Sumatera Barat (Sumbar). Stasiun Kayu Tanam, yang berstatus sebagai bangunan cagar budaya, bukan sekadar peninggalan sejarah perkeretaapian masa kolonial Belanda, tetapi kini kembali memainkan peran penting sebagai penghubung mobilitas masyarakat modern.





Kebangkitan fungsi Stasiun Kayu Tanam semakin terlihat dari melonjaknya jumlah pengguna KA Lembah Anai sepanjang tahun 2026.





Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat (KAI Divre II Sumbar) menunjukkan peningkatan volume pelanggan yang sangat signifikan, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel.





Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di stasiun yang dahulu dikenal sebagai salah satu simpul utama jaringan perkeretaapian Sumbar.





Pada masa lalu, Stasiun Kayu Tanam menjadi titik penting yang menghubungkan kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman.





Dari lokasi inilah pernah beroperasi jalur kereta api bergerigi atau rack railway, satu-satunya di Sumbar yang memungkinkan perjalanan kereta melintasi medan pegunungan menuju Padang Panjang.





Meski jalur bersejarah tersebut kini telah menjadi bagian dari catatan masa lalu, bangunan stasiun tetap berdiri kokoh dengan karakter arsitektur kolonial yang masih terjaga hingga sekarang. Keberadaannya menjadi simbol perjalanan panjang perkembangan transportasi rel di Ranah Minang.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X