Menurut Endang, Museum Bustanul Arifin dan kawasan PDIKM memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai ruang pertemuan komunitas, pusat edukasi budaya, sekaligus sarana pengembangan literasi yang berkelanjutan.
Berbagai kegiatan seperti diskusi buku, pelatihan literasi, pameran budaya, hingga aktivitas edukatif lainnya dinilai dapat dilaksanakan secara rutin. Dengan semakin banyak agenda yang digelar, kawasan tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat sekaligus memperkuat fungsi edukatifnya.
"Ini harus menjadi tempat yang produktif. Apalagi Padang Panjang dikenal sebagai Kota Literasi. Potensi yang ada perlu dimanfaatkan untuk melahirkan berbagai kegiatan literasi, pendidikan, dan kebudayaan yang berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra, menyambut positif perhatian dan dukungan yang diberikan Perpusnas terhadap pengembangan literasi di daerah tersebut.
Menurut Allex, keberadaan PDIKM harus terus diperkuat sebagai ruang publik yang tidak hanya berfungsi menjaga dan menyimpan warisan sejarah serta budaya Minangkabau, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan kreativitas masyarakat.
Ia menilai semakin banyak kegiatan yang digelar di kawasan PDIKM akan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi masyarakat maupun pengembangan sektor pariwisata daerah.
"Apapun program dari Pemerintah Pusat tentu akan kami dukung. Keberadaan PDIKM tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah dan budaya, tetapi juga harus menjadi ruang yang produktif, edukatif, dan mampu mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat. Dengan semakin banyak kegiatan yang dilaksanakan di sini, PDIKM akan semakin dikenal dan memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun sektor pariwisata daerah," ujarnya.
Dukungan dari Perpusnas tersebut diharapkan menjadi momentum bagi pengembangan kawasan PDIKM sebagai pusat literasi dan kebudayaan yang aktif.