Panas yang terakumulasi sejak pagi hingga siang hari memicu proses konveksi di atmosfer.
Kondisi ini menciptakan ketidakstabilan udara yang kemudian mendukung pembentukan awan hujan pada sore dan malam hari.
Fenomena tersebut terlihat dari tingginya intensitas curah hujan yang tercatat di sejumlah wilayah Indonesia. Curah hujan kategori lebat hingga sangat lebat dilaporkan terjadi di berbagai provinsi.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan curah hujan tertinggi mencapai 129,5 mm per hari. DKI Jakarta menyusul dengan 102,4 mm per hari, kemudian Bengkulu sebesar 96,4 mm per hari, Maluku 88,4 mm per hari, dan Jawa Barat 86,9 mm per hari.
Selain itu, curah hujan tinggi juga tercatat di Kepulauan Bangka Belitung 77,7 mm per hari, Kalimantan Tengah 73,3 mm per hari, Sumatra Utara 70,2 mm per hari, Kalimantan Timur 68,8 mm per hari, Papua Tengah 67,2 mm per hari, serta Sulawesi Utara 64,5 mm per hari.
Wilayah lain yang turut mencatat hujan signifikan ialah Jambi 61,8 mm per hari, Banten 58,6 mm per hari, Sulawesi Selatan 55,6 mm per hari, Lampung 55,4 mm per hari, Sulawesi Tenggara 55,2 mm per hari, Kalimantan Utara 52,2 mm per hari, dan Jawa Tengah 50,0 mm per hari.
Peningkatan hujan tersebut tidak hanya dipicu kondisi atmosfer lokal. Sejumlah fenomena atmosfer global dan regional juga berkontribusi terhadap pertumbuhan awan hujan di Indonesia.
Saat ini Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 5 atau Maritime Continent. Selain itu, aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin ikut mendukung pembentukan awan hujan di berbagai wilayah.