Selain pengajuan PSN, Pemkab Dharmasraya juga membawa usulan pembangunan feeder tol sepanjang kurang lebih 139 kilometer yang akan menghubungkan Koto Baru, Dharmasraya dengan akses Tol Rengat–Pekanbaru di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.
Dalam audiensi itu, Annisa menegaskan bahwa Dharmasraya memiliki posisi strategis sebagai wilayah perlintasan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumbar, Riau dan Jambi. Kondisi tersebut membuat Dharmasraya menjadi jalur utama distribusi logistik lintas provinsi.
“Dharmasraya merupakan pintu gerbang logistik Sumbar bagian timur. Bahkan bisa disebut sebagai Selat Hormus-nya Sumbar karena menjadi jalur utama arus distribusi barang dan komoditas lintas provinsi,” ujar Annisa.
Ia menjelaskan, sekitar 70 persen distribusi CPO dan tandan buah segar (TBS) dari kawasan Sumbar timur saat ini masih bergantung pada jalur darat menuju Provinsi Riau. Namun tingginya aktivitas kendaraan logistik menyebabkan kapasitas jalan eksisting semakin terbatas.
Karena itu, pembangunan feeder toll dinilai menjadi solusi penting untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dan mempercepat konektivitas antarwilayah.
Pemkab Dharmasraya memperkirakan keberadaan jalan penghubung tersebut dapat menekan biaya logistik sekitar 25 hingga 30 persen sekaligus mempercepat waktu tempuh distribusi menuju Pekanbaru, Jambi dan Palembang.
Tak hanya untuk mendukung distribusi komoditas, pembangunan feeder tol juga diyakini mampu membuka akses kawasan hinterland dan wilayah tertinggal di Dharmasraya. Dengan terbukanya akses baru tersebut, pemerintah daerah berharap pertumbuhan investasi di kawasan timur Sumbar dapat meningkat.
Dalam kesempatan itu, Pemkab Dharmasraya juga menyampaikan bahwa usulan pembangunan feeder tol telah memperoleh dukungan awal dari 13 kabupaten dan kota serta pemerintah provinsi di Riau dan Jambi. Dukungan tersebut berkaitan dengan integrasi jaringan jalan lintas wilayah yang dinilai penting bagi pengembangan ekonomi regional.