Dalam unggahannya, ia menilai tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal karena dilakukan di lokasi berbahaya dengan kondisi jalan yang menantang.
“Kejadian yang tidak masuk akal sekaligus memprihatinkan. Di tikungan terjal dan curam, mereka berhenti hanya untuk berfoto, sementara pengguna jalan lain harus menunggu. Ini sangat membahayakan,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Sorotan publik semakin meningkat setelah diketahui bahwa dalam rombongan tersebut terdapat politisi dari PDI Perjuangan, Arteria Dahlan. Informasi ini kemudian dikonfirmasi oleh pihak kepolisian.
Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) dari Ditlantas Polda Sumbar, Andis Anshori, menjelaskan bahwa pengawalan terhadap rombongan tersebut bukan dilakukan oleh pihaknya. Ia menyebut bahwa pengamanan berasal dari Satlantas Polres Solok Kota.
Menurut Andis, peristiwa itu sebenarnya telah terjadi sekitar satu pekan sebelum kembali viral di media sosial. Ia juga menegaskan bahwa sering terjadi kesalahpahaman di masyarakat yang mengira seluruh pengawalan kendaraan dilakukan oleh PJR Ditlantas.
“Kejadian itu sudah berlangsung sekitar sepekan lalu. Pengawalan dilakukan oleh Polres Solok Kota, bukan dari PJR,” ujar Andis saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).
Berdasarkan informasi yang diterima, rombongan tersebut diketahui tengah menjalankan agenda kunjungan kerja. Selain itu, kegiatan mereka juga mencakup penyaluran bantuan sosial yang didokumentasikan di lokasi tersebut.
Meski demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan berhenti di titik rawan seperti Tikungan Sitinjau Lauik tetap memiliki risiko tinggi. Andis menilai bahwa kondisi tersebut seharusnya dapat diantisipasi, terlebih bagi pihak yang mendapatkan pengawalan.