Sumbardaily.com, Pasaman Barat – Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi tinggi mulai digarap serius di Kabupaten Pasaman Barat. Produk Biochar berbahan baku limbah jagung, nilam, jerami hingga bambu resmi diluncurkan dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Selasa (24/2/2026).
Peluncuran tersebut dipusatkan di lokasi penyulingan nilam milik Sutar, Jorong Bandarejo, Nagari Lingkuang Aua Bandarejo, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat. Inisiatif ini menjadi langkah konkret dalam pengolahan limbah pertanian sekaligus mendukung kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
Produk biochar yang diperkenalkan memanfaatkan berbagai jenis limbah lokal, mulai dari jagung, nilam, eceng gondok, jerami padi, kakao atau cokelat, kopi, hingga bambu.
Material yang sebelumnya kurang bernilai tersebut kini diolah menjadi pembenah tanah yang memiliki fungsi strategis sebagai penangkap dan penyimpan emisi karbon dioksida (CO₂) dalam jangka panjang.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Reclimate Sdn. Bhd. dan Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat. Kerja sama tersebut diarahkan pada implementasi kebijakan NEK sesuai Peraturan Presiden, sebagai bagian dari upaya mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.
Manajer Operasional Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat, Fitra Jaya, menjelaskan bahwa inovasi biochar ini selaras dengan komitmen Indonesia dalam menekan emisi hingga 43,2 persen pada 2030 melalui kolaborasi internasional.
Menurutnya, pengolahan limbah pertanian lokal seperti jagung, nilam, kakao, kopi, eceng gondok, jerami, dan bambu bukan hanya meningkatkan kualitas tanah, tetapi juga membuka peluang baru dalam perdagangan karbon internasional.