Distribusi air bersih tersebut dikomandoi oleh Kepala BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton. Sebanyak 13 unit armada yang berasal dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, PU Balai, dan PMI dikerahkan setiap hari. Armada-armada tersebut melakukan rata-rata 30 kali ritase atau perjalanan pulang-pergi per hari.
Setiap armada mampu menyalurkan lebih dari 100 meter kubik air per hari kepada warga terdampak krisis air bersih, di luar pelayanan kepada pelanggan tetap Perumda Air Minum Kota Padang. Penyaluran difokuskan pada wilayah yang mengalami kekeringan paling parah.
Selain langkah darurat, Pemko Padang juga menyiapkan upaya lanjutan. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) saat ini tengah memvalidasi rencana pembangunan 212 titik sumur bor, terutama untuk memastikan status dan kesiapan lahan.
Pemko Padang juga mengantisipasi kondisi cuaca. Berdasarkan prakiraan BMKG yang menyebutkan tidak adanya hujan dalam sepekan ke depan, sejumlah langkah strategis disiapkan, termasuk penggunaan pompa berkapasitas 250–300 liter per detik di kawasan Irigasi Gunung Nago serta pemasangan pipa permanen guna menekan biaya bahan bakar minyak.
Selain itu, Pemko Padang mempertimbangkan pembukaan pipa jalur Lambung Bukit untuk mengisi Hidran Umum (HU) secara langsung. Langkah ini dinilai dapat mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat.
“Jika kondisi semakin memburuk, kami akan berkoordinasi dengan Gubernur untuk pengajuan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC),” ujar Fadly Amran.
Pemko Padang menargetkan krisis air bersih di empat kecamatan utama tersebut dapat berangsur mereda sebelum memasuki bulan suci Ramadan, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. (red)