Sekretaris Daerah Kota Padang Panjang, Sonny Budaya Putra, melaporkan perkembangan penanganan warga terdampak. Seluruh pengungsi telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman, baik ke Rusunawa maupun sejumlah unit kontrakan di Silaing Bawah, Koto Panjang, dan Koto Katik. Sebagian lainnya memilih tinggal sementara di rumah kerabat.
Data korban hingga saat ini menunjukkan 24 warga Padang Panjang meninggal dunia, sementara 15 korban lainnya berasal dari luar daerah. Sebanyak empat jenazah masih dalam proses identifikasi. Adapun laporan orang hilang tercatat 32 orang, terdiri dari 17 warga Padang Panjang dan 15 dari luar daerah.
Di sisi lain, kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang berlangsung sejak 27 November hingga 10 Desember cukup signifikan. Sebanyak 47 rumah mengalami rusak berat—dengan 25 unit di antaranya hanyut—disusul 16 rumah rusak sedang dan 196 rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan yang meliputi delapan SD, dua SMP, dan empat TK.
Sektor pertanian turut terdampak dengan total 16,17 hektare lahan rusak milik 28 kelompok tani. Fasilitas umum dan sosial tidak luput dari kerusakan, antara lain jalan sepanjang 520 meter, DAM 38 meter, irigasi 470 meter, jembatan 42 meter, empat rumah ibadah, serta satu fasilitas kesehatan.
Sonny juga menyampaikan bahwa dukungan dari berbagai pihak terus berdatangan. Bantuan yang diterima melalui posko darurat sudah disalurkan kepada seluruh pengungsi di berbagai titik penampungan. Total bantuan uang tunai hingga 10 Desember tercatat mencapai Rp 294.704.000.
Dengan kondisi yang masih dinamis, Pemko Padang Panjang menegaskan bahwa seluruh unsur terkait tetap siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan perkembangan situasi. Perpanjangan Status Tanggap Darurat menjadi langkah krusial untuk memastikan seluruh tahapan penanganan bencana dapat berjalan efektif, cepat, dan terkoordinasi. (red)