Ia menjelaskan bahwa bibit siklon tersebut memicu terbentuknya pola konvergensi atau pertemuan angin yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan secara masif dan terus-menerus.
“Hal itu memicu pertumbuhan awan hujan secara masif yang membuat hujan berlangsung terus-menerus dari pagi, siang, hingga malam,” ujarnya.
Menurut Yudha, wilayah dengan dampak terberat meliputi Kota Padang, Padang Pariaman, Agam, serta daerah pesisir barat. Selain curah hujan tinggi, BMKG juga mencatat adanya angin kencang hingga 40 kilometer per jam.
“Ada pengumpulan uap air yang kuat di pesisir. Bukan hanya awan hujan, tapi juga terpantau angin kencang hingga 40 km per jam,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hujan hampir tanpa jeda dalam 24 jam ini terjadi karena Sumbar tengah memasuki puncak musim hujan tahunan. Berdasarkan analisis BMKG, kondisi ini diperkirakan bertahan hingga 29 November, meskipun intensitas hujan diproyeksikan mulai berangsur melemah.
“Potensi hujan akan bergeser ke arah barat daya, seperti Pasaman Barat dan Agam bagian barat,” kata Yudha.
BMKG juga mencatat adanya anomali cuaca di sekitar garis khatulistiwa yang kemungkinan dipengaruhi pemanasan global dan perubahan iklim sehingga meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem. Karena itu, ia meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
“Kami mengingatkan seluruh warga Sumbar untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, longsor, dan galodo. Situasi cuaca masih dinamis, jadi tetap waspada,” tegasnya. (red)