Sumbardaily.com, Padang - Peringatan keras diarahkan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Padang usai pelaksanaan Simulasi Gempa dan Tsunami pada 5 November 2025 lalu.
Pusat Studi Bencana Universitas Andalas (PSB Unand) menilai bahwa rangkaian latihan tersebut memang patut diapresiasi, namun belum mampu menutupi satu kenyataan krusial, Kota Padang masih jauh dari predikat tangguh bencana.
Kajian terbaru PSB Unand menunjukkan bahwa kapasitas warga dalam mengenali ancaman, merespons guncangan besar, hingga berkoordinasi selama situasi darurat masih berada pada tingkat yang memprihatinkan.
Minimnya pelatihan terpadu dan lemahnya kolaborasi antar pemangku kepentingan membuat risiko bencana di Padang tetap berada pada level yang mengkhawatirkan.
Pengurus PSB Unand Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Prof Abdul Hakam menegaskan bahwa intensitas latihan kebencanaan di Padang berada pada titik paling rendah dalam beberapa tahun terakhir.
"Frekuensi latihan yang minim menyebabkan masyarakat tidak terlatih menghadapi situasi nyata ketika gempa besar atau tsunami terjadi," katanya, Jumat (14/11/2025).
Dari total 104 kelurahan di kota ini, katanya, hampir seluruhnya masuk kategori rendah dalam indeks mitigasi bencana. Wilayah seperti Sungai Sapiah, Jati, Sawahan, Anak Aie, Belimbing, Ulu Gaduik, hingga Lubuk Begalung menjadi contoh area yang memiliki kesiapsiagaan masyarakat yang sangat terbatas. Kondisi ini diperparah oleh minimnya sarana penyelamatan yang layak di banyak kelurahan.