SHYNTIA APRIZANI, PAYAKUMBUH
Pagi itu, langit Payakumbuh cerah. Udara terasa lebih hangat dari biasanya, bukan hanya karena matahari yang bersinar lembut, tetapi karena suasana yang menggetarkan di halaman Markas Yonif 131/Braja Sakti. Ratusan prajurit berdiri tegap dalam barisan, loreng mereka tampak sedikit memudar, namun tatapan matanya menyala: hari itu mereka pulang ke rumah.
Di antara riuh tepuk tangan dan sorak gembira, suara isak tertahan terdengar di beberapa sudut. Seorang prajurit muda tampak menurunkan ranselnya, lalu memeluk ibunya yang berdiri di barisan depan. Tak ada kata yang keluar, hanya air mata yang tumpah di antara seragam dan pelukan panjang yang nyaris tak terlepas.
Mereka bukan sekadar pasukan yang baru tiba dari tugas panjang. Mereka adalah anak, suami, dan ayah yang baru kembali dari garis depan perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini, setelah berbulan-bulan menjaga kedaulatan negara di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Rindu yang Tak Pernah Padam
Tugas menjaga perbatasan adalah ujian fisik dan batin. Di tengah hutan Papua yang lebat, para prajurit hidup dalam sunyi, menghadapi cuaca ekstrem, dan jarang mendengar kabar dari rumah. Bagi mereka, menahan rindu sering kali lebih berat daripada menghadapi medan.
“Yang paling berat bukan medan, tapi menahan rindu,” ujar salah satu prajurit muda dengan suara tenang. Ia mengenang bagaimana sinyal telepon yang kerap hilang membuatnya sulit sekadar mendengar suara ibunya. Kini, begitu turun dari truk, ia langsung berlari memeluk sang ibu tanpa sepatah kata pun.
Di tengah lapangan upacara, suasana haru merayap ke seluruh penjuru. Sejumlah istri dan anak kecil tampak berlari menyambut ayah mereka, sementara sebagian ibu berdiri tegak dengan wajah penuh bangga. “Setiap malam saya berdoa agar anak saya pulang dengan selamat. Hari ini doa itu terkabul,” kata seorang ibu dengan mata berkaca-kaca.