711 Bencana Terjadi di Padang, BPBD Ingatkan Warga Lebih Siaga

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 12 September 2025 | 07:23 WIB
Banjir merendam hampir seluruh Kota Padang akibat hujan deras yang terjadi sejak Kamis malam (13/7/2023) hingga Jumat (14/7/2023). (Foto: Dok Istimewa)
Banjir merendam hampir seluruh Kota Padang akibat hujan deras yang terjadi sejak Kamis malam (13/7/2023) hingga Jumat (14/7/2023). (Foto: Dok Istimewa)


Sumbardaily.com, Padang – Kota Padang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia. Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat, sepanjang tahun 2024 terjadi 711 peristiwa bencana yang melanda wilayah ini.





Perwakilan BPBD Kota Padang, Rifqi Arif, mengungkapkan hal tersebut ketika menjadi pembicara dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Arsip bagi Masyarakat Tangguh Bencana di salah satu hotel di Padang, Kamis (11/9/2025). Menurut Rifqi, kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang lebih serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat.





Rincian Kejadian Bencana





Dari total ratusan bencana tersebut, terdapat 349 kasus pohon tumbang, 19 korban meninggal dunia akibat hanyut, 29 titik banjir, 22 kejadian longsor, 6 kali angin puting beliung, 254 gempa bumi yang dirasakan masyarakat, 1 kasus kebakaran hutan, dan 26 kejadian kekeringan. Angka ini menunjukkan bahwa ancaman bencana di Padang sangat beragam, mulai dari bencana hidrometeorologi hingga geologis.





“Bencana tidak hanya berupa gempa bumi atau tsunami, tetapi juga kejadian sehari-hari seperti pohon tumbang yang bisa memakan korban. Karena itu, kesadaran dan keterampilan masyarakat untuk menyelamatkan diri menjadi sangat penting,” ujar Rifqi.





Peran Keluarga dan Komunitas





Ia menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Berdasarkan survei pascagempa Kobe 1995 di Jepang, sekitar 95 persen korban selamat berhasil ditolong oleh keluarga, tetangga, atau melalui upaya penyelamatan mandiri, bukan oleh tim penyelamat resmi.





“Temuan ini menjadi pengingat bahwa keluarga dan komunitas memiliki peran paling vital dalam upaya penyelamatan. Sering kali tim penyelamat terkendala jarak maupun akses menuju lokasi bencana,” kata Rifqi.





Belajar dari Kearifan Lokal





Selain itu, Rifqi juga menyinggung kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulue, Aceh, yang memiliki istilah smong untuk menyebut tsunami. Pengetahuan tersebut diwariskan turun-temurun melalui cerita rakyat dan lagu tradisional. Saat tsunami besar melanda Aceh pada 2004, kearifan lokal ini terbukti menyelamatkan ribuan nyawa di Simeulue.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X