Sumbardaily.com, Pekanbaru – Setiap 12 Agustus, dunia memperingati Hari Gajah Internasional sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya pelestarian satwa langka ini. Di Riau, momen tersebut menjadi penanda keberhasilan inovasi infrastruktur ramah lingkungan yang dilakukan PT Hutama Karya (Persero) melalui pembangunan Underpass Perlintasan Gajah (UPG) di sejumlah titik Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Terowongan bawah tanah ini memberi ruang aman bagi gajah-gajah Sumatra seperti “Getar” dan “Codet” untuk berpindah habitat tanpa harus bersinggungan langsung dengan lalu lintas jalan tol. Bagi Hutama Karya, upaya ini bukan hanya solusi teknis, melainkan bentuk komitmen agar pembangunan jalan tol tidak mengorbankan keberlangsungan hidup satwa liar.
Jembatan Ekologi yang Dirancang dari Data Perilaku Gajah
Inovasi UPG dirancang berdasarkan kajian mendalam mengenai perilaku migrasi gajah. Melalui pemasangan GPS collar di leher satwa, pergerakan dapat dipantau secara real-time, termasuk jalur lintasan, kebiasaan, dan interaksi antarindividu. Data ini kemudian menjadi acuan dalam menentukan lokasi terowongan, desain, dan pengaturan teknis agar pergerakan gajah tetap alami dan populasi terjaga.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, mengungkapkan pihaknya menjadi pionir dalam penyediaan jalur lintas satwa di Indonesia, khususnya di Jalan Tol Pekanbaru–Dumai (Permai) yang membentang sepanjang 131,5 kilometer. Saat ini, terdapat enam UPG yang dibangun di Km 12, 61, 69, 71, 73, dan 76, masing-masing dengan tinggi 5,1 meter dan lebar hingga 45 meter.
“Teknologi GPS collar membantu kami memahami pola migrasi, terutama pada periode September–November saat gajah jantan aktif mencari pasangan. Informasi ini penting untuk penjadwalan perawatan terowongan dan peningkatan kewaspadaan tim monitoring di lapangan,” ujar Adjib.
Berdasarkan pantauan lima tahun terakhir, gajah jantan dari kantong Balai Raja rutin berjalan puluhan kilometer menuju kantong Giam Siak Kecil untuk kawin. Pola ini terdeteksi konsisten dan menjadi dasar penentuan posisi terowongan.
Dampak Nyata: Nol Insiden dan Populasi Stabil
Monitoring dilakukan secara berkala melalui camera trap yang dipasang di setiap UPG, dilengkapi sistem pembersihan dari genangan air hujan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) menegaskan bahwa jalur lintas aman ini menjadi kunci mempertahankan keragaman genetik populasi.