Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Rudy Rinaldy, menjelaskan bahwa hingga akhir Juli 2025, pihaknya telah menerima laporan karhutla dari delapan kabupaten/kota, yaitu Pesisir Selatan, Padang, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Solok, Padang Pariaman, Pasaman, dan Tanah Datar.
Dari delapan daerah itu, dua di antaranya—Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota—telah menetapkan status tanggap darurat selama dua pekan terakhir.
“Luas lahan yang terbakar sudah lebih dari 500 hektar. Tapi ini masih estimasi sementara karena fokus utama kami masih pada pemadaman,” ujar Rudy.
Ia menyebut mayoritas kebakaran disebabkan oleh pembukaan lahan yang dilakukan dengan cara dibakar. Rudy menekankan pentingnya menghindari metode tersebut karena risikonya sangat besar, terutama di tengah cuaca kering ekstrem seperti sekarang ini.
Dalam upaya pemadaman di darat, BPBD telah mengerahkan armada pengangkut air ke berbagai lokasi terdampak. Namun, banyak kendala yang dihadapi, terutama akses menuju titik api yang sulit dijangkau karena berada di wilayah perbukitan, terjal, dan jauh dari sumber air.
“Karena itu kami menilai OMC ini sangat strategis dan efektif. Jika operasi ini berhasil menurunkan hujan, kita tidak perlu sampai menggunakan water bombing. Semua berharap ini berhasil,” ujar Rudy.
Berdasarkan data dari Posko OMC di BIM, penyemaian pertama dilakukan pada pukul 11.05 WIB di wilayah tenggara Kabupaten Solok dengan hasil hujan ringan hingga sedang. Selanjutnya, penyemaian kedua dilakukan pukul 14.20 WIB di wilayah utara Limapuluh Kota, dan ketiga pada pukul 17.15 WIB di wilayah gabungan Solok dan Limapuluh Kota.
Hasil awal cukup menggembirakan. Hujan dilaporkan turun di sejumlah kawasan terdampak. Di Kabupaten Solok, hujan turun pada pukul 15.16 WIB dengan durasi sekitar 15 menit. Intensitasnya tidak lebat, namun menjadi hujan pertama yang mengguyur wilayah itu setelah tiga bulan kemarau.