Faktor Ekonomi, Perumahan, dan Pengasuhan Hambat Keputusan Punya Anak

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Minggu, 22 Juni 2025 | 09:54 WIB
Potret Keluarga (Foto: Unsplash)
Potret Keluarga (Foto: Unsplash)


Sumbardaily.com – Tren menurunnya keinginan untuk memiliki anak menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Jika sebelumnya anak dianggap sebagai anugerah sekaligus simbol kebahagiaan rumah tangga, kini semakin banyak pasangan, terutama dari kalangan muda, yang memilih untuk menunda atau bahkan meniadakan rencana memiliki keturunan.





Perubahan ini mencerminkan bergesernya norma sosial dan munculnya tantangan-tantangan baru yang dihadapi generasi muda saat ini. Salah satu faktor paling dominan yang menyebabkan keengganan memiliki anak adalah masalah ekonomi.





Survei yang dilakukan oleh Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) bersama lembaga riset YouGov menunjukkan bahwa 39 persen pasangan di Indonesia menyebut kendala finansial sebagai alasan utama dalam pengambilan keputusan terkait memiliki anak. Survei ini dilakukan terhadap 14.000 responden di 14 negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Italia, Jerman, Amerika Serikat, hingga Afrika Selatan.





Secara global, hasil serupa juga terlihat. Dari total 10.000 responden yang sudah atau berencana memiliki anak, sebanyak 39 persen mengakui bahwa keterbatasan ekonomi membuat mereka memiliki anak lebih sedikit dari rencana awal.





Di Indonesia, faktor finansial ini mencakup tingginya biaya hidup, mulai dari kebutuhan dasar hingga biaya pendidikan dan kesehatan anak. Banyak pasangan muda merasa belum memiliki kestabilan ekonomi untuk mengasuh anak, yang membuat mereka menunda hingga waktu yang dianggap lebih memungkinkan.





Masalah keterjangkauan tempat tinggal juga menjadi faktor penting. Harga rumah yang terus melambung, keterbatasan ruang hunian, hingga tingginya tarif sewa membuat pasangan sulit merencanakan ruang yang layak untuk membesarkan anak. Di kota-kota besar, hal ini menjadi hambatan nyata bagi pasangan muda yang hidup di ruang terbatas.





Selain itu, ketidakpastian pekerjaan dan tingginya angka pengangguran turut memperkuat alasan untuk menunda kehamilan. Pasangan yang bergantung pada dua sumber penghasilan juga menghadapi kendala dalam menemukan layanan pengasuhan anak yang layak. Kurangnya fasilitas penitipan anak yang berkualitas dan terjangkau di Indonesia menjadi masalah yang belum terselesaikan.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X