"Program ini tidak hanya memberikan solusi pengelolaan sampah, tetapi juga menerapkan konsep sirkular ekonomi pada masyarakat," jelasnya.
Sejak diluncurkan, program ini telah menunjukkan hasil yang signifikan dengan berhasil mengumpulkan 378 ton sampah terpilah dari berbagai wilayah di Sumbar, mencakup Kota Padang, Kota Solok, dan Kabupaten Agam. Bahkan, program ini telah menjalin kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pengelolaan sampah laut.
Inovasi program ini tidak hanya berhenti pada pengumpulan sampah. PT Semen Padang memanfaatkan sampah terpilah sebagai bahan bakar alternatif untuk kiln di pabriknya menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Implementasi ini telah berhasil mengurangi emisi karbon sebesar 151,2 ton CO₂ dan mengurangi penggunaan bahan bakar batubara.
Program Nabuang Sarok juga memberikan insentif kepada masyarakat yang berpartisipasi melalui sistem poin dalam aplikasi. "Poin yang terkumpul dari penyetoran sampah dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik seperti emas, peralatan rumah tangga dan lain sebagainya," tambah Doche.
Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang tepat tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Prestasi Tim Nabuang Sarok di ajang SIG-GIA 2024 menjadi bukti nyata bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. (red)