Peserta lainnya termasuk Nagari Lubuak Basuang (Kabupaten Agam), Nagari Limau Lunggo (Kabupaten Solok), Nagari Lareh Nan Panjang (Kabupaten Padang Pariaman), Nagari Painan (Kabupaten Pesisir Selatan), dan Nagari Sijunjung (Kabupaten Sijunjung).
Partisipasi juga datang dari berbagai KAN perkotaan, meliputi KAN Pasa (Kota Pariaman), KAN Solok (Kota Solok), KAN Mandiangin (Kota Bukittinggi), KAN Kajai (Kota Sawahlunto), dan KAN Lareh Nan Panjang (Kota Padang Panjang).
"Penilaian dilakukan berdasarkan delapan instrumen utama yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan bernagari: bakorong-bakampuang, basuku-banagari, balabuah-batapian, basawah-baladang, babalai-bamusajik, bahuma-babendang, bahalaman-bapamedanan, dan bapandam-bapusaro," jelas Jefrinal.
Tim juri yang dilibatkan merupakan tokoh-tokoh terkemuka di bidangnya, termasuk Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar, ulama Sumbar Buya Masoed Abidin, tokoh Bundo Kanduang Prof. Puti Reno Raudha Thaib, serta para akademisi Dr. Yulizal Yunus, Prof. Nusyirwan Effendi, dan Dr. Hasanuddin.
Jefrinal mengungkapkan rencana pembuatan buku acuan implementasi ABS-SBK untuk tahun mendatang. "Buku ini akan menjadi panduan komprehensif bagi seluruh nagari di Sumbar dalam mengimplementasikan nilai-nilai ABS-SBK," ungkapnya. (red)