Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Kusworo, menjelaskan simulasi ini bagian dari rangkaian latihan yang dilaksanakan di berbagai wilayah rawan bencana di Indonesia.
"Kami telah menyelenggarakan latihan serupa di beberapa daerah rawan bencana, termasuk Aceh, Yogyakarta, kawasan Selat Sunda yang meliputi Anyer hingga Tanjung Lesung, serta wilayah timur mencakup Selat Bali dan Sorong," papar Kusworo.
Kusworo menekankan bahwa posisi geografis Indonesia, khususnya Sumbar, yang berada di pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, ditambah dengan keberadaan gunung berapi aktif, menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Kerentanan tersebut diperparah dengan prediksi BMKG tentang potensi cuaca ekstrem di Sumbar, yang mencakup periode hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat.
Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor di kawasan rawan bencana.
Data Basarnas menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2024, telah dilakukan 1.876 operasi SAR di seluruh Indonesia dengan hasil 33.289 korban berhasil diselamatkan dan 1.406 korban meninggal dunia.
Angka ini menjadi indikator pentingnya peningkatan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi bencana.
"Simulasi ini bukan sekadar latihan teoretis, melainkan upaya nyata mempersiapkan masyarakat menghadapi potensi bencana. Peserta diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan dan kesiapsiagaan ini kepada masyarakat luas," tambah Kusworo. (red)