“Kami menggunakan oli sebagai pelumas mesin-mesin pabrik. Sebelumnya, ketika (oli) sudah tidak terpakai lagi kami serahkan ke pihak ketiga untuk diproses lebih lanjut,” jelas Anita.
Saat ini oli bekas tersebut tidak lagi diserahkan kepada pihak ketiga, namun dimanfaatkan kembali untuk sumber energi panas dari Burner Kiln, alat utama pembuatan semen.
Pemanfaatan oli bekas ini, lanjut Anita, sangat efisien karena energi panasnya cukup besar, sampai 10.000 Kkal/kg, atau lebih tinggi dibandingkan batubara. Namun, jumlahnya tidak banyak.
Tidak kalah menarik, program penanaman pohon kaliandra yang juga berperan sebagai bahan bakar dengan daya panas yang hampir sama dengan batubara.
Penggunaan kaliandra menjadi salah satu langkah PT Semen Padang dalam upaya pengurangan pemakaian energi berbasis fosil, dengan bekerja sama masyarakat sekitar untuk memanfaatkan lahan tidak produktif dengan ditanami kaliandra.
“Kami bantu menyediakan bibit, serahkan kepada masyarakat. Mereka bisa menanam di lahan yang tidak produktif. Mereka menanam, kami (off takers) beli lagi dari masyarakat. Apalagi, kaliandra yang sejatinya tanaman semak tergolong istimewa, karena tanpa perawatan yang rumit tetap tumbuh dengan subur,” ungkap Anita.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong mengapresiasi PT Sucofindo, serta para pelaku usaha yang telah menerapkan efisiensi terhadap pengelolaan keseimbangan antara lingkungan, ekonomi, dengan sosial.
“Kami berharap ke depannya para pelaku usaha yang menerima penghargaan dapat memberikan dan menciptakan inovasi secara berkelanjutan,” ujar Alue Dohong. (*/red)