“Makanya kita beri penguatan kelembagaan supaya mereka tidak hanya menghasilkan produksi tetapi juga bisa mengolah sampai memasarkan ke konsumen akhir,” tutur Melinda.
Dalam penguatan kelembagaan ini, kata Melinda, pihaknya melibatkan penyuluh pertanian setempat. Sementara dari sisi agro industri, pihaknya juga melibatkan pemuda setempat yang memahami teknologi.
“Nah kami mengusulkan agar mereka melakukan produksi dan pengolahan secara berkelompok. Lalu memasarkannya ke pasar modern. Seperti ritel atau pemasaran secara online,” ungkap Melinda.
Meski telah memasuki tahun ketiga, namun pemuda setempat yang terlibat masih sulit untuk digerakkan. Menyikapi kondisi itu, kata Melinda, pihaknya menggandeng pemerintah nagari dan membuat kemitraan antara Kelompok Tani Baramban dengan Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag).
“Selama ini Bumnag belum punya kegiatan berbisnis yang signifikan. Jadi, Bumnag sepakat menjadi mitra. Mereka yang akan memasarkan produk sayuran sehat bersertifikat prima 3 milik petani di Kelompok Tani Baramban ke pasar modern. Termasuk rumah sakit, restoran,” sebut Melinda.
Baca Juga:
Tersingkir dari Piala Dunia 2022, Timnas Inggris Bawa Pulang Kucing Ini
Lebih lanjut Ketua Program Studi Doktor Ilmu Pertanian, Pascasarjana Fakultas Pertanian Unand ini menyampaikan, hasil bermitra dengan Bumnag menunjukkan tren positif.
Selain sukses dalam pemasaran, para petani di Kelompok Tani Baramban juga menjadi penarik bagi petani lain untuk ikut menghasilkan produk sayuran sehat bersertifikat prima 3.