Hadis ini memperluas isu makanan dari sekadar kebutuhan jasmani menjadi perintah spiritual.
Apa yang kita makan tidak hanya menentukan kondisi tubuh, tetapi menentukan kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kualitas ibadah.
Salah satu kisah Al-Qur’an yang jarang dibaca dari perspektif pangan adalah kisah Ashabul Kahfi.
Ketika para pemuda beriman itu bangun dari tidur panjangnya, hal pertama yang mereka pikirkan bukan politik, bukan ekonomi, bukan strategi keselamatan, melainkan makanan yang baik.
Allah berfirman:
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini; lalu hendaklah ia lihat makanan mana yang lebih baik (azkā tha‘āman), maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu.”
(QS. Al-Kahfi:19)
Kata “azkā tha‘āman” berarti makanan yang paling suci, paling baik, paling bersih, paling bermutu.
Sebuah detail kecil namun sangat dalam:
Para pemuda yang menjaga akidahnya dengan mengasingkan diri masih diperintahkan untuk teliti, selektif, dan berhati-hati dalam memilih makanan. Ini mengajarkan bahwa kesalehan tidak sempurna tanpa perhatian pada pangan.