Oleh: Perdinal, S.Pd.I
Tenaga Pendidik
Di tengah krisis kesehatan modern, dari obesitas, diabetes, hingga depresi, kita sering lupa bahwa akar persoalannya sangat mendasar, manusia telah jauh dari makanan yang sesuai fitrah penciptaannya.
Kita tak lagi makan dari tanah, tetapi dari pabrik, tak lagi merasakan nikmat sederhana alam, tetapi dipuaskan oleh rekayasa rasa yang semakin canggih.
Padahal, Islam sejak awal telah memberikan pedoman jelas tentang pentingnya makanan yang halal dan thayyib (baik, sehat, dan murni).
Al-Qur’an menegaskan, “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik” (QS. Al-Baqarah:168).
Ayat ini bukan hanya panduan normatif, tetapi prinsip ekologis dan biologis, manusia dituntut untuk kembali pada makanan yang autentik -real food- bukan makanan ultra, proses yang kehilangan kesucian dan kemurniannya.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan hubungan langsung antara kualitas makanan dan kualitas amal: “Sesungguhnya Allah itu Mahasuci, dan tidak menerima kecuali yang suci (thayyib)” (HR. Muslim).