Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?

Photo Author
Tio Furqan, Sumbardaily.com
- Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:33 WIB
Tio Furqan (Foto: Dok Pribadi)
Tio Furqan (Foto: Dok Pribadi)



Alasan yang kerap dilempar ke permukaan biasanya berkisar pada keterbatasan waktu, demi mempercantik estetika berita, atau yang paling buruk: kemalasan untuk mengusahakan foto riil.





Logika instan ini sangat berbahaya. Ambil contoh saat sebuah bencana alam sedang berlangsung. Demi mengejar kecepatan agar mendahului media kompetitor, redaksi dengan mudah merakit deskripsi teks menjadi gambar AI yang mendramatisasi situasi.
Apakah mengejar kecepatan visual harus mengorbankan kebenaran faktual?





Memproduksi foto AI dalam situasi tersebut mencerminkan matinya daya usaha. Padahal, jika jurnalis tidak sempat ke lokasi, masih ada opsi yang jauh lebih etis dan jurnalistis: menggunakan foto warga di lokasi kejadian atau dokumentasi resmi pihak humas/otoritas setempat, dengan catatan tetap meminta izin penggunaan dan mencantumkan kredit pemilik foto secara jelas. Jurnalisme bekerja dengan memverifikasi realitas, bukan memfabrikasinya.





Opsi Terakhir, Bukan Kebiasaan





Bagi saya, penggunaan visual generatif AI dalam ruang siber wajib ditempatkan sebagai opsi paling buncit, jika bukan sepenuhnya dihindari untuk berita hard news. Visual tersebut mungkin masih bisa ditoleransi dalam artikel opini spekulatif atau ilustrasi masa depan, itu pun dengan label “ILUSTRASI AI” yang sangat tegas agar tidak mengecoh pembaca.





Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan yang berulang dalam berita sehari-hari merupakan sebuah kemunduran moral profesi.





Jangan sampai atas nama modernisasi dan efisiensi, kita justru menyingkirkan peran fotografer dan jurnalis lapangan. Kamera boleh berganti dari analog ke digital, tetapi prinsip dasar jurnalisme tidak boleh bergeser: kita merekam dunia apa adanya, bukan menciptakan dunia yang kita inginkan.





Jika ruang redaksi mulai nyaman menyuapi pembaca dengan realitas semu buatan algoritma, maka pada hari itu pula jurnalisme telah kehilangan jiwanya. (*)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Tio Furqan

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X