Di tengah tantangan tersebut, potensi terbesar Indonesia justru terletak pada sumber daya biomassa yang melimpah. Indonesia menghasilkan lebih dari 170 juta ton limbah pertanian setiap tahun, mulai dari sekam dan jerami padi, tongkol jagung, hingga tandan kosong kelapa sawit dan ampas tebu. Limbah ini merupakan bahan baku potensial untuk bioethanol generasi kedua maupun sustainable aviation fuel (SAF) sebagai substitusi avtur.
Berbeda dengan bahan baku berbasis pangan, pemanfaatan limbah pertanian tidak menimbulkan konflik dengan kebutuhan pangan nasional dan sekaligus menyelesaikan persoalan residu pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan.
Jika dikembangkan melalui teknologi konversi termokimia dan biokimia yang tepat, limbah biomassa dapat menjadi sumber energi strategis sekaligus penggerak ekonomi pedesaan.
Pengembangan bio-avtur atau SAF juga membuka peluang baru bagi industri penerbangan nasional. Dengan tren global menuju dekarbonisasi, permintaan SAF diproyeksikan meningkat signifikan sebelum 2030. Indonesia, sebagai negara agraris dan produsen sawit terbesar dunia, memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat produksi bio-avtur di kawasan ASEAN.
Langkah ini tidak hanya mengurangi impor avtur berbasis fosil, tetapi juga meningkatkan daya saing industri energi terbarukan nasional. Namun transformasi tersebut tidak akan terjadi secara otomatis.
Diperlukan sinergi kebijakan lintas sektor antara energi, pertanian, perindustrian, dan keuangan. Insentif fiskal bagi pembangunan bio-refinery, dukungan pembiayaan hijau, serta penguatan riset dan inovasi menjadi prasyarat utama.
Di samping itu, pembangunan cadangan energi strategis harus diperbesar untuk meredam gejolak jangka pendek akibat konflik global. Kebijakan harga dan mekanisme pasar karbon juga perlu dioptimalkan agar bioenergi memiliki daya saing yang berkelanjutan.