Dengan meningkatnya permintaan akan batik di pasar internasional, banyak produsen batik mulai memproduksi batik dengan cara yang lebih praktis dan murah, seperti menggunakan teknik cap atau digital printing.
Meskipun produk ini lebih terjangkau, kualitas dan nilai budaya yang terkandung dalam batik tulis yang dibuat dengan tangan bisa hilang. Hal ini sangat mengancam keaslian batik sebagai warisan budaya.
Dalam usaha untuk mengikuti tren mode global, banyak desainer batik Indonesia yang mulai menggabungkan elemen-elemen desain internasional dalam batik mereka. Walaupun ini dapat meningkatkan daya tarik batik di pasar dunia, terkadang desain ini mengabaikan makna tradisional yang terkandung dalam motif batik tersebut.
Perubahan ini berpotensi membuat batik kehilangan esensinya sebagai simbol identitas budaya Indonesia, karena desain batik yang dibuat untuk tujuan komersial sering kali tidak mengacu pada nilai-nilai budaya yang mendalam. Di tengah gelombang globalisasi, batik modern yang lebih praktis dan modis semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda.
Batik tradisional yang rumit dan memerlukan keterampilan tinggi dalam pembuatannya, sering dianggap tidak relevan dengan gaya hidup modern yang lebih cepat dan praktis. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan minat terhadap batik tradisional yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.
Tanpa adanya upaya pelestarian yang baik, batik tradisional bisa terlupakan seiring dengan waktu. Mereka menganggap batik terlalu kaku atau tidak sesuai dengan gaya hidup modern. Meskipun ada inisiatif seperti "Hari Batik Nasional," yang di peringati setiap tanggal 2 Oktober penggunaan batik sehari-hari masih tergolong jarang.
Banyak orang hanya memakai batik pada momen tertentu, seperti acara formal atau hari kerja khusus. Faktor seperti gaya hidup modern, anggapan bahwa batik kurang praktis, serta dominasi busana kasual menjadi penyebabnya.