Hidup manusia adalah rangkaian dari tahapan-tahapan yang berjalan linear. Prosesnya memiliki titik awal yang terus melaju menuju satu titik yang menjadi akhir dari perjalanannya. Kita tentu seringkali mendapatkan berita kelahiran, berita itu bisa saja datang dari salah seorang saudara, kerabat, atau juga rekan kerja. Kita tentu juga pernah merasakan atau mendapati berita duka saat salah seorang kenalan kita meninggal dunia. Kelahiran adalah titik awal dan kematian adalah titik akhir perjalanan manusia di dunia.
Siklus hidup secara sederhana dapat kita pahami sebagai proses perubahan dan perkembangan yang dialami oleh makhluk hidup. Siklus hidup manusia berarti kita bicara perubahan dan perkembangan yang dialami manusia. Dalam tulisan ini kita berbicara mengenai siklus hidup manusia, namun tidak sekedar dalam artian perubahan dan perkembangan biologis saja. Secara biologis kita tentu memahami siklus hidup manusia terlihat dari perubahan dan perkembangan fisiknya. Peristiwa kelahiran seorang bayi lalu bertumbuh menjadi anak-anak lantas menjadi dewasa dan kemudian menua hingga akhirnya meninggal. Kita akan menyelami siklus hidup manusia ini dari sisi sosial budaya yang mengikuti setiap perubahan hidup seorang manusia.
Fakta Sosial dalam Siklus Hidup Manusia
Ada sebuah teori klasik dalam kajian sosiologi yang dimunculkan oleh Emil Durkheim. Teori ini dikenal sebagai teori fakta sosial. Dalam teori ini Durkheim berargumen bahwa terdapat realitas di luar diri manusia yang bersifat umum dan memaksa. Fakta sosial ini mengkondisikan cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak manusia. Manusia itu makhluk yang malang yang tidak memiliki free will atau kehendak bebas dalam menjalani hidupnya. Fakta sosial ini sudah ada dan mengikat individu ketika ia lahir ke dunia. Fakta sosial ini mengikuti seluruh rangkaian hidup manusia mulai dari ia lahir hingga kematian menghampiri. Wujudnya dapat berupa berbagai keharusan yang harus ditunaikan dan tersedia sanksi bila tidak mengindahkan.
Manusia adalah makhluk biologis dan sosial, artinya ia tidak hanya eksis sebagai organisme tapi juga sebagai makhluk sosial. Hal ini berarti ia tidak terlepas dari manusia-manusia lainnya serta nilai dan norma yang berlaku di dalam kehidupan sosial manusia itu. Manusia sebagai individu ketika dilahirkan secara otomatis menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat tempat ia dilahirkan. Dan saat ia bertumbuh, ia dipengaruhi (juga dapat mempengaruhi) nilai dan norma yang telah ada.
Siklus hidup manusia dapat kita lihat dalam tahapan-tahapan seperti lahir, kemudian menjadi anak-anak, menginjak masa remaja kemudian dewasa, dan kemudian meninggal dunia. Sadar atau tidak, semua tahapan tadi diikat dan diatur oleh berbagai macam nilai dan norma yang ada. Seluruh rangkaian tadi akan dipagari oleh berbagai kebiasaan yang menjadi tolak ukur normal atau tidaknya kehidupan seseorang. Saat rangkaian hidup tadi mengabaikan kebiasaan atau bahkan menentang kebiasaan yang sudah ada, maka bersiaplah dengan sanksi sosial yang menanti.
Saat manusia dilahirkan, peristiwa kelahirannya akan diikuti dengan tradisi-tradisi yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat tempat ia dilahirkan. Orang tua si bayi memiliki semacam keharusan untuk menyelenggarakan tradisi-tradisi tersebut. Sebagai contoh, kelahiran seorang bayi di masyarakat Minangkabau di beberapa tempat akan diiringi dengan tradisi turun mandi. Tradisi ini dipercaya sebagai wujud rasa syukur keluarga si bayi karena Allah SWT telah mengizinkan bayi tersebut lahir dalam keluarga mereka. Acara ini juga menjadi cara untuk mengumumkan ke masyarakat bahwa telah lahir seorang bayi di lingkungan mereka. Saat bayi tadi tumbuh menjadi seorang anak-anak. Jika ia sebagai muslim atau penganut agama Islam berjenis kelamin laki-laki, maka nantinya ia akan menjalani khitan atau basunaik yang merupakan salah satu Sunnah Rasulullah. Khitan adalah proses bedah oleh ahli medis yang akan memotong ujung kulit yang menutupi kepala penis laki-laki. Tak ada masalah dengan khitan ini, tapi khitan ini biasanya akan diiringi dengan acara mandoa atau berdoa bersama dirumah keluarga yang sedang khitan dan akan disediakan jamuan, bahkan tak jarang juga diadakan baralek atau kenduri merayakan bahwa anak laki-laki mereka telah di khitan.