Pentingnya Kesetaraan Gender bagi Perempuan Masa Kini di Era Modernisasi

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Senin, 24 Oktober 2022 | 18:41 WIB
Nonia Putri Rizlen (Foto: Dok Pribadi)
Nonia Putri Rizlen (Foto: Dok Pribadi)


Penulis: Nonia Putri Rizlen (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)





Permasalahan gender di era global adalah masalah penindasan dan eksploitasi, kekerasan, dan persamaan hak dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan, dan pelacuran paksa, yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. Antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi, relatif tingginya angka pengangguran, serta rendahnya tingkat pendidikan.





Kesetaraan berasal dari kata setara/sederajat. Setara berarti sejajar atau sederajat. Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Namun, dalam kehidupan sosial manusia membutuhkan adanya kesetaraan sosial yang berarti bahwa semua manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki derajat yang sama dan harus diperlakukan sama, sehingga setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan konsumsi yang layak.





Pada kenyataannya saat ini masih terdapat ketidaksetaraan gender, terutama bagi kaum perempuan. Dapat disimpulkan bahwa gender berbeda dengan jenis kelamin, jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, berlaku secara umum, tidak dapat berubah, dan merupakan kodrat dari Tuhan. Sedangkan gender lebih berhubungan dengan perbedaan perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial, budaya, dan psikologis.





Ketidaksetaraan gender sudah ada sejak zaman dahulu. Dapat di lihat dari kisah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau R.A. Kartini yang kerap disebut sebagai simbolis aliran feminisme-liberalis di Indonesia. Kartini senantiasa diagungkan sebagai pejuang wanita yang berani melawan ketimpangan gender. Dari kisah R.A. Kartini dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidaksetaraan gender dalam pendidikan, adanya perjodohan dan terdapat penindasan terhadap hak-hak perempuan.





Ketidaksetaraan pendidikan yang berlandaskan tradisi dan budaya atas dasar kodrat sehingga membentuk stigma negatif di masyarakat yang membatasi ruang geraknya perempuan. Seperti adanya pemikiran bahwa perempuan harus di rumah, memasak, dan mengurus anak saja, membuat perempuan merasa tidak hidup seutuhnya. Perempuan merasa, bahwa ia tidak memiliki hak untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin ia jalani.





Meski saat ini sudah banyak perempuan yang mulai melawan stigma, nyatanya perjalanan untuk benar-benar lepas dari stigma memang masih panjang. Hal ini dikarenakan budaya patriarki yang melekat kuat sejak dulu. Berikut macam-macam aspek terkait ketidaksetaraan bagi perempuan, antara lain:





1 Ketidakadilan dalam Aspek Pendidikan





Partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan sangat rendah karena akses perempuan juga masih dirasakan rendah dalam menempati jabatan-jabatan birokrasi pemegang kebijakan dibandingkan dengan laki-laki pada setiap jenjang Pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya stigma masyarakat yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena sulit mendapatkan jodoh dan nantinya hanya bertanggung jawab mengurusi dapur, sumur dan Kasur.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB
X