Indonesia Performance Camp 2025 Usung Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumbar

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Sabtu, 8 November 2025 | 11:43 WIB
Indonesia Performance Camp 2024 (Foto: IPC)
Indonesia Performance Camp 2024 (Foto: IPC)



“IPC 2025 menekankan tiga fokus utama, yakni memperdalam kapasitas teknis performer, membuka ruang kolaborasi lintas disiplin, dan memperkuat regenerasi seni pertunjukan di Sumbar,” tambah Wendy.





Workshop Dramaturgi Postdramatic: Menyigi Tubuh dan Ruang





Bagian utama dari IPC 2025 adalah Workshop Dramaturgi Postdramatic yang dirancang sebagai ruang pertemuan antarpraktik seni dan lintas generasi. Melalui enam sesi intensif, para peserta akan diajak mengolah tubuh sebagai pusat penciptaan. Proses tidak berhenti pada bentuk pertunjukan, tetapi juga menyelami proses internal: bagaimana tubuh merekam keseharian, menyimpan ketegangan sosial, dan membentuk struktur dramaturgi baru.





Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama: Kai Tuchmann, dramaturg dan sutradara asal Jerman dengan pengalaman luas di Eropa dan Asia; serta Ibed Surgana Yuga, sutradara dan penulis lakon dari Kalanari Theatre Movement Yogyakarta. Kolaborasi keduanya menghadirkan pertemuan antara metodologi riset akademik dengan pengalaman ketubuhan tradisi Indonesia.





Kai Tuchmann dikenal melalui praktik teater dokumenter dan kecenderungannya menantang batas-batas realitas di panggung. Lulusan Akademi Drama Ernst Busch Berlin ini banyak mengeksplorasi tema kehidupan pasca–Revolusi Kebudayaan Tiongkok, isu pekerja migran, dan dampak digitalisasi terhadap kehidupan urban. Ia juga aktif mengajar di berbagai universitas seperti Beijing University, University of California Santa Cruz, hingga Jawaharlal Nehru University.





Sementara itu, Ibed Surgana Yuga memiliki rekam jejak panjang dalam penyutradaraan dan penulisan lakon sejak awal 2000-an. Melalui Kalanari Theatre Movement, ia mengeksplorasi konsep ketubuhan dan dramaturgi berbasis tradisi Nusantara. Karyanya pernah tampil di berbagai festival internasional dan meraih Penghargaan Umar Kayam. Selain aktif berkarya, Ibed juga menulis buku Bali Tanpa Bali dan menjadi editor di Kalabuku.





Menurut Wendy, pertemuan Kai dan Ibed dalam satu ruang latihan akan menghadirkan lanskap pembelajaran yang kaya: “Pendekatan Kai yang reflektif dan dokumenter berpadu dengan eksplorasi ketubuhan yang khas Indonesia dari Ibed. Ini menciptakan ruang latihan yang intens, jujur, dan penuh dialog,” ujarnya.





Tubuh, Ingatan, dan Eksperimen Kolektif





Workshop ini tidak diarahkan untuk menghasilkan karya siap pentas, melainkan membuka kembali kesadaran peserta terhadap tubuhnya. Setiap sesi menjadi kesempatan untuk membaca pola lama, menemukan kemungkinan baru, serta melatih kepekaan terhadap ruang, cahaya, dan keberadaan tubuh lain. Pendekatan ini diharapkan memperkuat kapasitas peserta dalam bekerja kolektif, berbasis riset, dan memiliki sensitivitas terhadap konteks sosial budaya.





“Lewat IPC, kami ingin performer menemukan bahasa tubuhnya sendiri—bahasa yang lahir dari pengalaman, refleksi, dan keterlibatan sosial,” tutur Wendy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X