Tantangan Layanan Kesehatan Mental di Indonesia
Dukungan terhadap penelitian kesehatan mental dalam perspektif Islam dinilai relevan bagi Indonesia, yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Di tengah besarnya jumlah penduduk Muslim, akses terhadap layanan kesehatan mental masih menjadi tantangan, termasuk bagi kelompok anak dan remaja.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan bahwa sekitar satu dari tiga penduduk Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun sebelumnya. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai 15,5 juta anak dan remaja.
Namun, proporsi mereka yang mencari bantuan atau mengakses layanan konseling masih sangat rendah. Berdasarkan survei tersebut, hanya 2,6 persen dari anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental yang mencari bantuan atau mengakses layanan konseling.
Data itu menggambarkan adanya kesenjangan antara besarnya jumlah anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental dengan pemanfaatan layanan bantuan yang tersedia. Stigma dan keraguan untuk mencari pertolongan profesional menjadi salah satu persoalan yang turut mendapat perhatian dalam penelitian laboratorium Stanford tersebut.
Awaad menjelaskan bahwa keyakinan agama dapat menjadi sumber kekuatan bagi sebagian pasien selama menjalani proses pemulihan. Akan tetapi, aspek spiritual tersebut belum selalu menjadi bagian dari layanan kesehatan mental yang mereka terima.
“Bagi banyak pasien kami, keyakinan agama menjadi sumber kekuatan selama proses pemulihan. Namun, aspek ini belum selalu menjadi bagian dari layanan kesehatan mental yang mereka terima,” ujar Awaad.
Ia menilai dukungan dari ParagonCorp membantu laboratorium melanjutkan penelitian dan pelatihan yang ditujukan untuk mendukung komunitas yang masih menghadapi stigma. Stigma tersebut dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan ketika mengalami persoalan kesehatan mental, termasuk di Indonesia.
“Dukungan ini membantu kami melanjutkan penelitian dan pelatihan untuk mendukung komunitas yang masih menghadapi stigma, yang kerap membuat orang enggan mencari bantuan, termasuk di Indonesia,” kata Awaad.
Paragon-Wardah Research Fund Dukung Kebutuhan Laboratorium
Paragon-Wardah Research Fund merupakan dana yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan dan kebutuhan Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab. Pendanaan tersebut ditujukan untuk menopang misi laboratorium secara keseluruhan di bawah arahan Awaad.
Sementara itu, penetapan prioritas penelitian tetap menjadi kewenangan laboratorium. Dengan mekanisme tersebut, dana dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan yang berkaitan dengan misi penelitian, sedangkan arah dan prioritas kajian ditentukan oleh pihak laboratorium itu sendiri. (*)