Di darat, Manggala Agni Kemenhut bekerja sama dengan BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.
Kegiatan penanganan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman langsung, pemutusan kepala dan sisi api, penyekatan penjalaran, pembasahan, penyisiran bara atau mopping up, serta pendinginan.
Khusus di lahan gambut, petugas tidak menghentikan penanganan hanya karena nyala api di permukaan telah hilang. Bara yang tertinggal di bawah tanah masih dapat menjalar dan memicu kebakaran kembali.
Kualitas Udara di Sumatera Perlu Diperhatikan
Selain pemadaman, kualitas udara juga menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Berdasarkan pemantauan berbasis PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang.
Namun, sejumlah wilayah masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Secara lokal, terdapat pula daerah dengan kategori berbahaya, terutama di beberapa bagian Kalimantan serta sejumlah wilayah Sumatera dan Papua.
Penurunan jumlah hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kualitas udara. Asap dari kebakaran, khususnya di lahan gambut, dapat bertahan dan bergerak mengikuti kondisi atmosfer meskipun jumlah titik panas telah berkurang.
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara memburuk diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.