Daryono juga menjelaskan kondisi tanah ketika hujan berlangsung terus-menerus. Air hujan mengisi pori-pori tanah hingga mendekati kondisi jenuh. Tekanan air pori kemudian meningkat dan membuat kekuatan geser tanah menurun.
Akibatnya, lereng menjadi lebih mudah mengalami longsor. Material hasil longsoran berupa tanah, batu, pohon, dan material lainnya dapat masuk ke alur sungai.
Kondisi tersebut menjadi pembeda antara galodo dan banjir yang hanya membawa air. Galodo dapat berubah menjadi aliran yang terdiri atas campuran air dan material padat sehingga memiliki daya rusak yang jauh lebih besar.
Selain longsoran, material yang sebelumnya sudah berada di alur sungai juga dapat ikut bergerak. Endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu, atau material longsoran yang terdapat di dasar maupun tebing sungai bisa kembali termobilisasi ketika debit air meningkat secara mendadak.
Material tersebut kemudian menambah volume sekaligus energi aliran galodo.
Daryono turut menyinggung kondisi tutupan lahan. Vegetasi berpengaruh terhadap kemampuan DAS dalam menahan air hujan. Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat menurunkan intersepsi dan infiltrasi serta meningkatkan erosi dan limpasan.
Namun, ia mengingatkan agar kondisi tutupan lahan tidak langsung disebut sebagai penyebab bencana di Solok tanpa dukungan data.
"Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan, sehingga jangan langsung disebut sebagai penyebab tanpa analisis," demikian penjelasan Daryono.