Mahyeldi kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan tradisi masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu telah memiliki budaya literasi, baik melalui pengetahuan tertulis maupun lisan.
Falsafah “Alam takambang jadi guru” menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Minangkabau memandang alam sebagai sumber pembelajaran.
Begitu pula ungkapan “Takilek ikan dalam tabek, lah tahu jantan batino-nyo” yang menggambarkan kemampuan membaca tanda, memahami keadaan sekitar, serta mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.
Menurut Mahyeldi, tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya Minangkabau memiliki cara tersendiri dalam memperoleh dan mengolah pengetahuan.
“Budaya Minangkabau mensinergikan dua sumber informasi. Pertama, ayat-ayat qauliyah, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kemudian ayat-ayat kauniyah, yaitu alam yang terbentang luas. Kita diajak memahami dan menginternalisasi keduanya dalam kehidupan,” ucap Gubernur.
Karena itu, Gubernur menilai kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Sumbar tidak semestinya hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat dinikmati generasi sekarang.
Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dipelihara agar tetap dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
“Kita bukan hanya bertanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan agar semua kekayaan itu tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” katanya.