“Dengan adanya air ini, mudah-mudahan akan ada pengembangan-pengembangan lain yang dilakukan untuk masa yang akan datang. Nikmat yang sudah ada ini harus kita syukuri dengan cara menjaga, memelihara dan merawatnya dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tanah Datar, Abdul Rahman Hadi mengatakan, sistem pompanisasi tersebut diproyeksikan mampu melayani kebutuhan air untuk sekitar 400 hektare persawahan masyarakat Tanjung Barulak.
Jangkauan tersebut masih berpotensi bertambah. Jika dikembangkan lebih lanjut, layanan air dari sistem pompanisasi itu dapat diperluas hingga nagari-nagari yang berbatasan dengan Tanjung Barulak.
Abdul Rahman Hadi menyebutkan Tanjung Barulak saat ini dihuni sekitar 1.700 kepala keluarga atau kurang lebih lima ribu jiwa. Sebelum adanya sistem tersebut, sebagian besar kegiatan pertanian masyarakat masih mengandalkan sawah tadah hujan.
Kondisi itu menjadi salah satu hambatan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas.
Keterbatasan air bahkan turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan program bajak sawah gratis karena lahan yang tidak memiliki cukup air cenderung lebih sulit diolah.
Dari sisi teknologi, pompanisasi tersebut merupakan hasil pengembangan inovasi yang melibatkan PLN dan Universitas Andalas bersama sejumlah pemangku kepentingan.
General Manager PT PLN (Persero) UID Sumbar, Ririn Rachma Wardini menjelaskan Fakultas Teknik Unand sebelumnya telah mengembangkan prototipe pompanisasi berbasis tenaga surya.