berita

Indeks Kesehatan Lamun Sumbar Terungkap, Peneliti Temukan 8 Jenis di 14 Lokasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:09 WIB
Tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta melaksanakan kajian indeks kesehatan ekosistem lamun (seagrass) di sejumlah wilayah pesisir Sumatera Barat. (Foto: UBH)


Sumbardaily.com - Tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta melaksanakan kajian indeks kesehatan ekosistem lamun (seagrass) di sejumlah wilayah pesisir Sumatera Barat. Kajian tersebut dilakukan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan perairan sekaligus menjadi dasar dalam pengelolaan konservasi pesisir dan kelautan.





Kajian indeks kesehatan ekosistem lamun ini merupakan bagian dari penelitian internal Tahun 2026 yang dilaksanakan Direktorat Riset-Inovasi, PKM dan Kemitraan Universitas Bung Hatta. Penelitian tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta.





Koordinator peneliti, Dr. Suparno, M.Si, mengatakan tim penelitian terdiri atas sejumlah dosen dan mahasiswa. Anggota tim dosen yakni Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc dan Bukhari, S.Pi, M.Si. Sementara mahasiswa FPIK yang terlibat adalah Ihksan Diva Hutrisman, Hanafiah Hasibuan dan Rahman Amanda.





Suparno menjelaskan lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas tinggi. Lamun termasuk tumbuhan berbunga yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati serta hidup dalam kondisi terendam di dasar laut.





Keberadaan padang lamun memiliki fungsi penting bagi ekosistem laut. Lamun berperan sebagai produsen detritus dan nutrien serta menjadi kawasan bagi berbagai biota laut untuk berlindung, mencari makanan, tumbuh hingga memijah.





Selain mendukung kehidupan berbagai organisme laut, ekosistem lamun juga memiliki manfaat bagi aktivitas manusia. Kawasan lamun dapat mendukung budidaya laut, pariwisata hingga menjadi sumber pupuk hijau.





"Manfaat ekosistem lamun untuk budidaya laut, pariwisata, dan sumber pupuk hijau. Lamun (seagrass) merupakan salah satu penyimpan karbon biru (blue carbon) paling penting di laut, terutama karena kemampuannya menyerap CO₂ melalui fotosintesis dan kemudian mengunci karbon dalam biomassa serta sedimen dasar laut," sebutnya dikutip resmi Jumat (28/8/2026).


Halaman:

Tags

Terkini