Kota Padang yang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami dituntut memiliki kesiapsiagaan tinggi, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga perilaku masyarakatnya.
Tema “Bersatu Dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana” terasa nyata dalam momen tersebut. Kolaborasi antara siswa, guru, dan unsur kebencanaan terlihat dalam setiap tahapan evakuasi yang dilakukan secara terstruktur.
Namun, kondisi mencekam itu bukanlah bencana yang sebenarnya. Seluruh rangkaian kejadian tersebut merupakan bagian dari peringatan HKBN 2026 atau Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) yang digelar oleh Pemerintah Kota (Pemko) Padang.
Kegiatan ini dirancang sebagai simulasi gempa bumi dan tsunami untuk melatih kesiapsiagaan masyarakat secara langsung.
Hari Kesiapsiagaan Bencana sendiri diperingati setiap 26 April, bertepatan dengan momentum lahirnya Undang-undang (UU) nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Regulasi ini menandai perubahan pendekatan penanganan bencana di Indonesia, dari respons darurat menuju penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan.
Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2017, HKBN menjadi momentum nasional untuk membangun budaya tangguh bencana melalui latihan evakuasi mandiri yang dilakukan secara berkala.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton mengatakan, selain simulasi evakuasi, pihaknya juga melaksanakan pengecekan aktivasi perangkat EWS yang tersebar di 32 titik di Kota Padang dan selalu rutin dilakukan pengecekan aktivasi setiap tanggal 26 setiap bulannya.