berita

Karhutla Meluas! Sumbar Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca, Ini Targetnya

Jumat, 25 Juli 2025 | 14:53 WIB
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumbar (Foto: Dok Istimewa)


Sumbardaily.com, Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mulai menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah. Operasi yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar ini difokuskan pada daerah dengan kondisi paling parah, yakni Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok.





Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Rudy Rinaldy menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC merupakan tindak lanjut dari kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menanggulangi kebakaran yang melanda selama musim kemarau tahun ini.





“Jika tidak ada kendala, besok (hari ini) operasi akan dilaksanakan karena bibit-bibit awan hujan sudah mulai muncul di wilayah Limapuluh Kota. Bila bibit serupa terdeteksi di Solok, penyemaian juga akan dilakukan di sana,” ujar Rudy usai Rapat Koordinasi OMC di Kantor BPBD Sumbar, Kamis (24/7/2025).





Berdasarkan data BPBD, hingga saat ini telah dilaporkan kebakaran hutan dan lahan di tujuh kabupaten dan kota. Total lahan terdampak hampir mencapai 500 hektar, dengan kondisi terparah berada di Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota. Untuk wilayah terdampak tersebut, BPBD juga mengerahkan armada pengangkut air serta seluruh personel gabungan guna mempercepat pemadaman di lapangan.





“Semua tim telah bekerja keras di lapangan. Semoga dengan OMC ini upaya kita makin efektif dan kebakaran segera terkendali,” lanjut Rudy.





Dua daerah tersebut bahkan telah menetapkan status Tanggap Darurat (TD) karhutla, mengingat tak ada hujan yang turun selama lebih dari dua bulan. Kondisi ini diperparah dengan prediksi puncak musim kemarau yang masih akan berlangsung hingga September mendatang.





Kepala BMKG Stasiun Bandara Internasional Minangkabau, Desindra Deddy Kuniawan, menjelaskan bahwa modifikasi cuaca penting dilakukan untuk merangsang hujan di tengah kekeringan ekstrem. “Puncak musim kering terjadi pada Juli hingga awal September. Ini membuat kondisi sangat mudah terbakar. Karena itu, OMC menjadi solusi jangka pendek paling realistis,” ujar Desindra.


Halaman:

Tags

Terkini