Setelah kebutuhan atlet diketahui, pengembangan model dilakukan melalui beberapa tahapan. Proses tersebut mencakup identifikasi kebutuhan, penyusunan model, validasi oleh ahli dan praktisi, serta pengujian penerapan model kepada atlet.
Menurut Ali, tahapan tersebut diperlukan karena Jurus Tunggal memiliki tuntutan keterampilan yang cukup beragam. Atlet tidak hanya dituntut mampu melakukan gerakan dengan benar, tetapi juga harus menjaga sejumlah aspek lain selama menampilkan rangkaian jurus.
Ia menjelaskan nomor Jurus Tunggal dalam pencak silat membutuhkan penguasaan teknik, ketepatan gerakan, kualitas gerakan, koordinasi, keseimbangan, kekuatan, dan kelentukan. Atlet juga harus mampu menyajikan rangkaian gerakan secara sistematis.
"Kompleksitas tersebut membutuhkan metode latihan yang tidak hanya berorientasi pada pengulangan gerakan, tetapi juga mampu mengembangkan berbagai komponen keterampilan secara terpadu," imbuhnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan PERE-SPHL. Model latihan dirancang agar berbagai komponen keterampilan yang diperlukan dalam Jurus Tunggal dapat dikembangkan secara lebih terarah dalam proses latihan atlet.
Ali mengatakan pengembangan model latihan yang berbasis penelitian diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap praktik kepelatihan olahraga di lingkungan sekolah. Model tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi dapat digunakan dalam kegiatan latihan secara praktis.
Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat membantu pelatih dan pihak terkait menyusun latihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan atlet pencak silat usia sekolah.
"Hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi salah satu referensi bagi pelatih, guru pendidikan jasmani, atlet, maupun peneliti dalam mengembangkan metode latihan pencak silat, khususnya pada nomor Jurus Tunggal. Model yang dihasilkan juga diharapkan dapat memberikan alternatif dalam penyusunan program latihan yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik atlet usia sekolah," kata Ali.