Namun, perubahan karakter erupsi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berhenti. Pemantauan Badan Geologi justru masih menemukan sejumlah parameter yang perlu diperhatikan.
Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas gempa permukaan yang terekam melalui gempa frekuensi rendah dan gempa hybrid/fase banyak masih mengalami fluktuasi, meskipun kecenderungannya menurun.
Di sisi lain, kondisi gempa vulkanik menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan rata-rata rekaman Gempa Vulkanik Gunungapi Anak Krakatau.
Peningkatan gempa vulkanik dalam tersebut menjadi perhatian karena mengindikasikan bahwa proses pergerakan atau suplai magma dari bagian yang lebih dalam masih berlangsung.
Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya erupsi kembali masih tinggi, meskipun intensitas aktivitas erupsi yang terlihat di permukaan saat ini telah mengalami penurunan.
Dengan pertimbangan tersebut, Badan Geologi tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Artinya, perubahan intensitas erupsi di permukaan belum menjadi alasan untuk mengabaikan aktivitas yang berlangsung di bagian dalam gunung api.
Peralatan Pemantauan Terdampak Erupsi
Bersamaan dengan perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau, proses pemantauan terhadap gunung api tersebut terus dilakukan Badan Geologi.
Sejumlah peralatan pemantauan memang mengalami dampak akibat aktivitas erupsi. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan proses pengamatan. Pemantauan masih dapat dilakukan dengan memanfaatkan stasiun yang tetap berfungsi, pengamatan secara visual, serta berbagai parameter pemantauan lainnya.